6
pengertian akad, tujuan, syarat, rukun dan prinsip akad
Pengertian, Tujuan, Syarat, Rukun dan Prinsip Akad - Salah satu bagian dari ilmu fiqh yang mengatur hubungan manusia dengan manusia serta urusan keduniawian adalah fiqh muamalah. Salah satu contoh yaitu tidak semua orang memiliki barang yang ia butuhkan, sedangkan orang lain memiliki barang tersebut, dengan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak, maka akan terjadi suatu transaksi. Kesepakatan tersebut timbul apabila kedua belah pihak telah terikat satu sama lain dalam suatu ijab dan Kabul. Inilah yang disebut dengan akad dalam islam. Akad tersebut digunakan dalam melakukan suatu transaksi maupun kerjasama dengan orang lain. Dari paparan di atas, penulis tertarik untuk menyusun sebuah makalah yang membicarakan tentang konsep akad dalam akad dari segi fungsinya yang berisi mengenai pengertian, tujuan, syarat, rukun, prinsip dan dasar hukum syar'i Akad
RUMUSAN MASALAH

a. Bagaimana pengertian dan tujuan akad?
b. Bagaimana syarat dan rukun akad?
c. Bagaimana prinsip akad?
d. Bagaimana dasar hukum syar’I akad?
TUJUAN PENULISAN
  1. Mengetahui pengertian dan tujuan akad.
  2. Mengetahui syarat dan rukun akad.
  3. Mengerahui prinsip akad.
  4. Mengerahui dasar hukum syar’I akad.

PENGERTIAN AKAD

Kata akad berasal dari Bahasa Arab al-‘aqd yang secara etimolagi berarti perikatan, perjanjian dan permufakatan, (al-ittifaq).[1] Secara terminology fiqh, akad didefinisikan dengan ”pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan Kabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syari’at yang berpengaruh pada objek perikatan”. Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy, yang mengutip definisi yang dikemukakan Al-Sanhury, akad ialah: perikatan ijab dan Kabul yang dibenarkan syara’ yang menetapkan kerelaan kedua belah pihak.

Akad adalah suatu perikatan antara ijab dan Kabul dengan cara yang dibenarkan syara, yang menetapkan adanya akibat-akibat hukum pada objeknya.[2]

TUJUAN AKAD 

Ahmad Azhar Basyir menentukan syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu tujuan akad dipandang sah dan mempunyai akibat hukum[3], yaitu:
  1. Tujuan akad tidak merupakan kewajiban yang telah ada atas pihak-pihak yang bersangkutan tanpa akad yang diadakan.
  2. Tujuan harus berlangsung adanya hingga berakhirnya pelaksanaan akad.
  3. Tujuan akad harus dibenarkan syara’.

RUKUN DAN SYARAT AKAD

Dalam menjalankan Akad perlu adanya Rukun dan syarat akad yang harus dijalani, berikut adalah rukun dan syaratnya:

Rukun-rukun akad

1. ‘Aqid, adalah orang yang berakad terkadang masing-masing pihak terdiri dari satu orang, terkadang terdiri dari beberapa beberapa orang.

2. Ma’qud alaih, ialah benda-benda yang diakadkan, seperti benda-benda yang dijual dalam akad jual beli, dalam akad hibah (pemberian), gadai, utang yang dijamin seseorang dalam akad kafalah.

3. Maudhu’ al-‘aqd, yaitu tujuan atau maksud pokok mengadakan akad. Berbeda akad maka berbedalah tujuan pokok akad.

4. Shighat al-aqd, ialah ijab Kabul, ijab ialah permulaan penjelasan yang keluar dari salah seorang yang berakad sebagai gambaran kehendaknya dalam mengadakan akad. Kabul ialah perkataam yang keluar dari pihak yang berakad pula yang diucapkan setelah adanya ijab.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam shighat al-aqd (akad) ialah:

a. Shighat al-aqd harus jelas pengertiannya, misalnya: “aku serahkan benda ini kepadamu sebagai hadiah atau pemberiannya”.

b. Harus bersesuian antara ijab dan Kabul.

c. Menggambarkan kesungguhan kemauan dari pihak-pihak yang bersangkutan, tidak terpaksa, atau tidak karena diancam.

Beberapa cara yang diungkapkan dari para ulama’ fiqh dalam berakad

1. Dengan cara tulisan atau kitabah, misalnya dua aqid berjauhan tempatnya maka ijab Kabul boleh dengan kitabah atau tulisan.

2. Isyarat, bagi orang tertentu akad atau ijab Kabul tidak dapat dilaksanakan dengan tulisan maupun lisan, misalnya pada orang bisu yang tidak bias baca maupun tulis, maka orang tersebut akad dengan isyarat.

3. Perbuatan, cara lain untuk membentuk akad selain secara lisan, tulisan atau isyarat ialah dengan cara perbuatan. Misalnya seorang pembeli menyerahkan sejumlah uang tertentu kemudian penjual menyerahkan barang yang dibelinya.

4. Lisan al-hal. Menurut sebagian ulama’, apabila seseorang meninggalkan barang-barang dihadapan orang lain kemudian dia pergi dan orang yang ditinggali barang-barang itu berdiam diri saja, hal itu dipandang telah ada akad ida’ (titipan).
Baca juga: Fakta Cara Keharmonisan Rumah Tangga yang Harus Engkau Ketahui

 

Syarat-syarat akad

1. Syarat-syarat ang bersifat umum, yaitu syarat-syarat yang wajib sempurna wujudnya dalam berbagai akad:

  1. · Kedua orang yang melakukan akad cakap bertindak (ahli), maka akad orang tidak cakap (orang gila, orang yang berada dibawah pengampuan (mahjur) karena boros dan lainnya akadnya tidak sah.
  2. · Yang dijadikan objek akad dapat menerima hukumnya.
  3. · Akad itu diijinkan oleh syara’, dilakukan oleh orang yang mempunyai hak melakukannya, walaupun dia bukan akid yang memiliki barang.
  4. · Akad bukan jenis akad yang dilarang.
  5. · Akad dapat memberi faedah.
  6. · Ijab harus berjalan terus, maka ijab tidak sah apabila ijab tersebut dibatalkan sebelum adanya qobul.
  7. · Ijab dan qobul harus bersambung, jika seseorang melakukan ijab dan berpisah sebelum terjadinya qobul, maka ijab yang demikian dianggap tidak sah.

2. Syarat-syarat yang bersifat khusus, yaitu syarat-syarat yang wujudnya wajib ada dalam sebagian akad. Syarat khusus ini juga disebut dengan idhofi (tambahan) yang harus ada disamping syarat-syarat yang umum, seperti syarat adanya saksi dalam pernikahan.

PRINSIP-PRINSIP AKAD


Dalam hukum Islam telah menetapkan beberapa prinsip akad yang berpengaruh kepada pelaksanaan akad yang dilaksanakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan adalah sebagai berikut:

  1. · prinsip kebebasan berkontrak
  2. · prinsip perjanjian itu mengikat
  3. · prinsip kesepakatan bersama
  4. · prinsip ibadah
  5. · prinsip keadilan dan keseimbangan prestasi.
  6. · prinsip kejujuran (amanah)

DASAR HUKUM SYAR’I AKAD


Adapun dasar-dasar akad diantaranya :

Firman Allah dalam Al Qur’an Surat Al Maidah ayat 1 yakni:


“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”

Dalam kaidah fiqih dikemukakan yakni:

Hukum asal dalam transaksi adalah keridlaan kedua belah pihak yang berakad, hasilnya adalah berlaku sahnya yang diakadkan.

Maksud keridlaan tersebut yakni keridlaan dalam transaksi adalah merupakan prinsip. Oleh karena itu, transaksi barulah sah apabila didasarkan kepada keridlaan kedua belah pihak.

HIKMAH AKAD

Diadakanya akad dalam muamalah antar sesame manusia tentu mempunyai hikmah, hikmah akad antara lain:
  1. Adanya ikatan yang kuat antara dua orang atau lebih dalam bertransaksi
  2. Tidak dapat sembarangan dalam membatalkan suatu ikatan perjanjian.
  3. Akad merupakan paying hokum didalam kepemilikan sesuatu, sehingga orang lain tidak dapat menggugat atau milikinya.

Secara etimologi akad berarti perikatan, perjanjian dan permufakatan. Adapun secara terminology, Akad adalah perikatan ijab dan Kabul yang dibenarkan syara’ yang menetapkan keridlaan dari kedua belah pihak.

Rukun-rukun akad meliputi: ‘aqid, orang yang berakad. Mauqud alaih, benda-benda yang diakadkan. Maudhu’ al-aqd, tujuan atau maksud pokok melakukan akad. Shighat al-aqd, ijab Kabul.

Akad memiliki berbagai macam, tergantung dari ahli fiqh muamalah itu memandang dari sudut pandangnya. Selain itu, akad memiliki kedudukan yang sangat penting dalam fiqh muamalah dalam kehidupan sehari-hari umat manusia.


DAFTAR PUSTAKA 
  1. Basyir,MA, Akhmad Azhar, KH. Asas-asas hokum muamalat (hokum perdata islam). Yogyakarta: UII press. 2000
  2. Ghazaly, M.A, Dr.H. Abdul Rahman, Prof. fiqh muamalat. Jakarta: KENCANA. 2010
  3. Huda, Qomarul. Fiqh muamalah. Yogyakarta: TERAS. 2011
  4. Suhendi, Dr. H. Hendi, Prof. fiqh muamalah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2011

[1]Abdul Rahman Ghazaly, fiqh muamalat, KENCANA, Jakarta, 2008, hal 50
[2] Akhmad Azhar Basyir, Asas-asas hukum muamalat, UII pers, Yogyakarta, 1982, hal 65
[3]Ibid, hal; 99-100
[4] Hendi suhendi, fiqh muamalah, PT. Raja Grafindo, Jakarta, hal. 48-49
[5] Qomarul huda,fiqih muamalah, teras, Jogjakarta, 2011, hal 32

Post a Comment

Silahkan di Share kalau dianggap bermanfaat

 
Top